Tuesday, July 27, 2010
antara cinta, expectations dan komunikasi
Beberapa hari yang lalu, temanku ngomong gini ke aku..
“Lyn, when you love someone and you started to feel hurt…it means there is something’s wrong, and you need to find what that is.”
Eyn : ah kagak ngerti ah maksudnya apa!! Gmana bisa?!
My friend : iya…karena ketika mengasihi seseorang itu brings pain instead of pleasure, berarti ada sesuatu yg salah, dan lu mesti cari tau itu apa.
Entah aku adalah temen yg tukang nurut, entah karena aku rasa perkataan itu masuk akal juga..aku jadi terus mikirin perkataan dia..
Dan aku jadi menyadari satu hal, bahwa rasa sakit itu muncul ketika ada expectations yg tidak terpenuhi.
Perkataan temanku jadi lebih masuk akal sekarang..
Ketika aku sayang seseorang, dan mengharapkan sesuatu dari orang itu…dan tidak terpenuhi, itulah saat hatiku sakit.
Well..tentu..bole2 saja berharap pada orang, gak ada salahnya dengan itu.
Tapi, yang juga penting adalah expectations itu harus bisa dikomunikasikan.
Karena seringkali..ketika expectations tidak terpenuhi (karena yg diharapkan clueless..bukan karena tidak mau memenuhi), jadi suka ber-asumsi sendiri..dan lagi, bertambahlah sakit itu.
Aku selalu melihat cinta itu sebagai sebuah anugrah, sesuatu yg tidak dapat dipaksakan, sesuatu yg naturally muncul, bukan karena usaha. Sehingga bagiku mencintai dan bisa berkorban bagi seseorang adalah anugrah. Hadiah cuma-cuma dari Allah yang adalah kasih.
Sedangkan expectations itu tentu diciptakan. Dapat dikompromikan. Dapat diskenariokan. Dapat ditinggikan. Dapat direndahkan. Sesuatu yang dapat diusahakan.
Apalagi komunikasi!! Itu bisa belajar.
Merusak cinta (yang adalah anugrah) dengan expectations (yang seringkali adalah keegoisan sendiri) dan dengan komunikasi (yang tidak lancar)…duuuh sayang banget kan..?!
Marilah menjaga keindahan hadiah CINTA dari Tuhan..dan dipoles lebih lagi supaya kualitas cinta kita tambah gahar : cinta yang sabar; murah hati; tidak cemburu; tidak memegahkan diri; tidak sombong; tidak melakukan yang tidak sopan; tidak mencari keuntungan diri sendiri; tidak pemarah; tidak menyimpan kesalahan orang lain; tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran; menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
dan marilah belajar untuk “mengendalikan” expectations kita dan komunikasikan itu.
And always choose to LOVE, coz LOVE never fails!
“Lyn, when you love someone and you started to feel hurt…it means there is something’s wrong, and you need to find what that is.”
Eyn : ah kagak ngerti ah maksudnya apa!! Gmana bisa?!
My friend : iya…karena ketika mengasihi seseorang itu brings pain instead of pleasure, berarti ada sesuatu yg salah, dan lu mesti cari tau itu apa.
Entah aku adalah temen yg tukang nurut, entah karena aku rasa perkataan itu masuk akal juga..aku jadi terus mikirin perkataan dia..
Dan aku jadi menyadari satu hal, bahwa rasa sakit itu muncul ketika ada expectations yg tidak terpenuhi.
Perkataan temanku jadi lebih masuk akal sekarang..
Ketika aku sayang seseorang, dan mengharapkan sesuatu dari orang itu…dan tidak terpenuhi, itulah saat hatiku sakit.
Well..tentu..bole2 saja berharap pada orang, gak ada salahnya dengan itu.
Tapi, yang juga penting adalah expectations itu harus bisa dikomunikasikan.
Karena seringkali..ketika expectations tidak terpenuhi (karena yg diharapkan clueless..bukan karena tidak mau memenuhi), jadi suka ber-asumsi sendiri..dan lagi, bertambahlah sakit itu.
Aku selalu melihat cinta itu sebagai sebuah anugrah, sesuatu yg tidak dapat dipaksakan, sesuatu yg naturally muncul, bukan karena usaha. Sehingga bagiku mencintai dan bisa berkorban bagi seseorang adalah anugrah. Hadiah cuma-cuma dari Allah yang adalah kasih.
Sedangkan expectations itu tentu diciptakan. Dapat dikompromikan. Dapat diskenariokan. Dapat ditinggikan. Dapat direndahkan. Sesuatu yang dapat diusahakan.
Apalagi komunikasi!! Itu bisa belajar.
Merusak cinta (yang adalah anugrah) dengan expectations (yang seringkali adalah keegoisan sendiri) dan dengan komunikasi (yang tidak lancar)…duuuh sayang banget kan..?!
Marilah menjaga keindahan hadiah CINTA dari Tuhan..dan dipoles lebih lagi supaya kualitas cinta kita tambah gahar : cinta yang sabar; murah hati; tidak cemburu; tidak memegahkan diri; tidak sombong; tidak melakukan yang tidak sopan; tidak mencari keuntungan diri sendiri; tidak pemarah; tidak menyimpan kesalahan orang lain; tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran; menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
dan marilah belajar untuk “mengendalikan” expectations kita dan komunikasikan itu.
And always choose to LOVE, coz LOVE never fails!
Sunday, July 25, 2010
i will run to You and i will keep on doing it
Biar bagaimanapun, aku selalu paksakan hari Minggu bisa “tidur siang”. Emang paling ideal kalo bisa sampe di rumah cukup siang, jadi bener2 actually "tidur" di "siang" hari. Tapi hampir setiap Minggu, pasti aja ada hal yang aku kerjakan, dan kemarin aku sampe rumah jam 5.
Karena aku punya cita2 mulia untuk napping + emang teler bgt, aku tetep tidur!!! Jam 6…lalu bangun jam 8! haha :$
Bangun2, mama and Rieza lagi asik nonton “Indonesia Mencari Bakat”, kalo lagi iklan, pindah ke “Take Me Out”. Aku langsung lari ke mejaku, buka laptop, nyalain Itunes, ambil Alkitab, siap2 mau bible reading..
Tapi ooh…tidur pules 2 jam, dtambah agak2 laper, dtambah si Brandddoooon di Trans TV, and Mas Choky di Indosiar, bener2 bikin gak konsen lah untuk mulai baca Alkitab.. haha :$ *itulah mengapa, aku selalu semangat 45 untuk bangun super pagi, or tidur super malem, supaya punya waktu tenang dan juga supaya aku punya waktu untuk keluargaku*
Then, akirnya aku putuskan pasang earpiece..supaya lebih tenang!
Aku bersyukur dengan segala “kerusuhan” di luar, sehingga memaksaku konsen cuma denger lagu di Itunes, pas lagi lagu “I will run to You”
Your eye is on the sparrow and Your hand, it comforts me
From the ends of the Earth to the depth of my heart
Let Your mercy and strength be seen
You call me to Your purpose as angels understand
For Your glory, may You draw all men as Your love and grace demand
And I will run to You to Your words of truth
Not by might, not by power but by the Spirit of God
Yes I will run the race ‘til I see Your face
Oh let me live in the glory of Your grace
Ini lagu yg sangat kunikmati ketika SMP, lagu pertama yang “aku bisa” dari kaset Hillsong pertamaku. Dan ini juga lagu kedua (or ketiga?) yg dinyanyiin ama vocal grup'ku yg awalnya cuma ber-4.
Aku jadi menyadari satu hal yang indah mengenai lagu pujian. Dengan mendengar dan actually menyanyikan lagu pujian, untuk aku pribadi, membuatku mengenang dan merefleksi banyak hal. Selain tentunya, most of the time selalu ada yang Tuhan mau sampaikan melalui pujian itu.
Sejak kecil, aku suka sekali dengan musik. Hadiah pertama dari papa waktu aku umur 3 tahun adalah cassette tape player. Bukan karena aku hobi nyanyi dulu, tapi karena aku hobi bergoyang *aku gak menyebut, goyang kiri kanan anak umur 3 tahun sebagai menari tentunya*.
Setelah udah bisa baca, dan ke sekolah minggu, baru deh mulai hobi2 ngafal lagu dan nyanyi dengan suara seadanya!! Hanya bernyanyi, tanpa terlalu ngerti apa yg aku nyanyiin..
Menyanyi menjadi lebih dari sekitar menyanyi, sejak aku sungguh2 terima Kristus, naik SMP 1. Awal2 ngerti yang namanya saat teduh itu, bagiku doa+nyanyi+baca Alkitab adalah 1 paket! Indah :D
Sampai sekarangpun, ketika aku lagi “tidak tahu harus bagaimana lagi”, tidak punya kata2 untuk berdoa karena terlalu sedih sehingga tidak bisa bicara lagi *namun sungguh bersyukur, karena kita punya Roh Kudus yg selalu berdoa bagi kita Roma 8:26*, aku selalu berdiam diri dan mendengar lagu.
“Repeat” merupakan fave button ku saat2 begitu, aku biasa mendengar lagu berulang-ulang, sampai aku bisa lebih clear dengan kondisi ku, bisa lebih tenang, menangis dan akirnya mencurahkan semua isi hatiku ke Tuhan. Itulah mengapa, banyak lagu-lagu yang punya kenangan khusus denganku, dan ketika mendengarnya lagi, aku jadi ingat masa2 aku tumpah ruah di hadapan Tuhan, dan ketika melihat ke belakang, aku jadi melihat bagaimana Dia menjawab doaku.
Nah, lagu “I will run to You” membuatku mengenang kembali masa awal2 aku kenal Tuhan dan melayani Dia di SMP.
Lagu ini telah membuat seorang erlyn kelas 2 SMP berasa special, karena sungguh Tuhan memperhatikan dia sampai kedalaman hatinya. Walaupun waktu itu masalah mungkin masi belum terlalu complicated, gak jauh2, "hanya" masalah dengan teman..namun aku sangat2 takjub mengetahui bahwa ada Allah yang begitu mengerti diriku lebih dari siapapun. Burung kecil saja begitu Tuhan perhatikan, terlebih aku.
Lagu ini juga selalu membuat 14 tahun erlyn amazed, “wah Tuhan pilih eyn toh?!” dan selalu membuat erlyn kecil *yg fyi, tinggi badannya gak berubah sampai sekarang huhu* ngerasa…”senangnya bisa cari Tuhan apapun kondisi eyn!”
Dan hari ini, lagu ini mengingatkan ku pada teman2 sepelayananku dulu dan juga pada panggilan ku secara pribadi lagi.
Yes I will run the race
‘til I see Your face
Hampir setengah dari usiaku, aku menjalani hidup bersama Dia.. dan aku menyadari, aku masi berada di sebuah pertandingan.
Saat masi di persekutuan dulu, seakan pertandingan tuh lebih jelas jalurnya. Setelah kepengurusan tahun ini selesai, tinggal “digumuli” masi “mau” lanjut gak di kepengurusan tahun depan. Seakan semuanya tersedia bagi kita, tinggal jalani aja. Kita juga punya pembimbing. Jaman SMP-SMA dulu, sepertinya girang banget kalo 1 tahun telah berlalu, dan kita “naek kelas”, pindah ke babak baru, pertandingan baru. Dan enaknya saat itu kita selalu bersama.
Dan tentunya, itu sangat wajar untuk para bayi rohani, kita makan sesuatu yang telah disediakan, kita dibimbing, kita dilayani *walaupun kita juga melayani, namun kita sungguh2 sangat dilayani saat itu*
Saat ini kondisi udah berbeda, hampir semua teman sepelayananku punya dunianya sendiri, melayani di tempat dan bidang masing2. *puji Tuhan!!*
Dan sekarang, yang Tuhan minta juga berbeda, bukan kepengurusan 1 atau 2 tahun *well, mungkin sebagian dari kita masi ada sih*, yang kalau udah kelar bisa mikir2 lagi mau lanjut atau gak, ibaratnya komitmennya bisa temporary. Kali ini semakin bertumbuh dan dewasa di dalam Dia, sungguh jelas, melayani bukan sekedar menjadi bagian dari organisasi. Melayani adalah hidup kita, bagian dari hubungan kita dengan Tuhan. Sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari keseharian kita. Bisa dimanapun, kapanpun, dengan cara apapun.
Dan sampai kapan? 1-2 tahun? Sampai saya bosan? Sampai saya gak punya waktu lagi, karena saya sibuk bekerja? Sampai saya menikah kelak dan waktu saya hanya untuk keluarga?
No!!
Sampai kita bertemu Dia, muka dengan muka!
Teman2, saat ini each of us punya our own race as in bidang pelayanan, bidang kehidupan, tempat dan panggilan. Walaupun sejujurnya aku sangat merindukan kalian *berharap bisa kembali melayani bersama2*, aku percaya Tuhan telah persiapkan kita bersama2 saat itu dan saat ini Dia memanggil kita di tempat kita masing2, mari tetap setia sampai akhir dan saling mendoakan!
Namun, ada 1 race yg selalu kita share bersama yaitu race kehidupan kita bersama dengan Tuhan, hidup yang semakin hari semakin dekat dengan Dia, semakin memancarkan kemuliaan Tuhan, dan yang terus menjadi saksi bagi kerajaanNya dimanapun kita ditempatkan.
Sampai kita bertemu Dia, muka dengan muka!
Inilah doaku, biarlah pada akhirnya, kita semua mampu berkata seperti Rasul Paulus:
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
Karena aku punya cita2 mulia untuk napping + emang teler bgt, aku tetep tidur!!! Jam 6…lalu bangun jam 8! haha :$
Bangun2, mama and Rieza lagi asik nonton “Indonesia Mencari Bakat”, kalo lagi iklan, pindah ke “Take Me Out”. Aku langsung lari ke mejaku, buka laptop, nyalain Itunes, ambil Alkitab, siap2 mau bible reading..
Tapi ooh…tidur pules 2 jam, dtambah agak2 laper, dtambah si Brandddoooon di Trans TV, and Mas Choky di Indosiar, bener2 bikin gak konsen lah untuk mulai baca Alkitab.. haha :$ *itulah mengapa, aku selalu semangat 45 untuk bangun super pagi, or tidur super malem, supaya punya waktu tenang dan juga supaya aku punya waktu untuk keluargaku*
Then, akirnya aku putuskan pasang earpiece..supaya lebih tenang!
Aku bersyukur dengan segala “kerusuhan” di luar, sehingga memaksaku konsen cuma denger lagu di Itunes, pas lagi lagu “I will run to You”
Your eye is on the sparrow and Your hand, it comforts me
From the ends of the Earth to the depth of my heart
Let Your mercy and strength be seen
You call me to Your purpose as angels understand
For Your glory, may You draw all men as Your love and grace demand
And I will run to You to Your words of truth
Not by might, not by power but by the Spirit of God
Yes I will run the race ‘til I see Your face
Oh let me live in the glory of Your grace
Ini lagu yg sangat kunikmati ketika SMP, lagu pertama yang “aku bisa” dari kaset Hillsong pertamaku. Dan ini juga lagu kedua (or ketiga?) yg dinyanyiin ama vocal grup'ku yg awalnya cuma ber-4.
Aku jadi menyadari satu hal yang indah mengenai lagu pujian. Dengan mendengar dan actually menyanyikan lagu pujian, untuk aku pribadi, membuatku mengenang dan merefleksi banyak hal. Selain tentunya, most of the time selalu ada yang Tuhan mau sampaikan melalui pujian itu.
Sejak kecil, aku suka sekali dengan musik. Hadiah pertama dari papa waktu aku umur 3 tahun adalah cassette tape player. Bukan karena aku hobi nyanyi dulu, tapi karena aku hobi bergoyang *aku gak menyebut, goyang kiri kanan anak umur 3 tahun sebagai menari tentunya*.
Setelah udah bisa baca, dan ke sekolah minggu, baru deh mulai hobi2 ngafal lagu dan nyanyi dengan suara seadanya!! Hanya bernyanyi, tanpa terlalu ngerti apa yg aku nyanyiin..
Menyanyi menjadi lebih dari sekitar menyanyi, sejak aku sungguh2 terima Kristus, naik SMP 1. Awal2 ngerti yang namanya saat teduh itu, bagiku doa+nyanyi+baca Alkitab adalah 1 paket! Indah :D
Sampai sekarangpun, ketika aku lagi “tidak tahu harus bagaimana lagi”, tidak punya kata2 untuk berdoa karena terlalu sedih sehingga tidak bisa bicara lagi *namun sungguh bersyukur, karena kita punya Roh Kudus yg selalu berdoa bagi kita Roma 8:26*, aku selalu berdiam diri dan mendengar lagu.
“Repeat” merupakan fave button ku saat2 begitu, aku biasa mendengar lagu berulang-ulang, sampai aku bisa lebih clear dengan kondisi ku, bisa lebih tenang, menangis dan akirnya mencurahkan semua isi hatiku ke Tuhan. Itulah mengapa, banyak lagu-lagu yang punya kenangan khusus denganku, dan ketika mendengarnya lagi, aku jadi ingat masa2 aku tumpah ruah di hadapan Tuhan, dan ketika melihat ke belakang, aku jadi melihat bagaimana Dia menjawab doaku.
Nah, lagu “I will run to You” membuatku mengenang kembali masa awal2 aku kenal Tuhan dan melayani Dia di SMP.
Lagu ini telah membuat seorang erlyn kelas 2 SMP berasa special, karena sungguh Tuhan memperhatikan dia sampai kedalaman hatinya. Walaupun waktu itu masalah mungkin masi belum terlalu complicated, gak jauh2, "hanya" masalah dengan teman..namun aku sangat2 takjub mengetahui bahwa ada Allah yang begitu mengerti diriku lebih dari siapapun. Burung kecil saja begitu Tuhan perhatikan, terlebih aku.
Lagu ini juga selalu membuat 14 tahun erlyn amazed, “wah Tuhan pilih eyn toh?!” dan selalu membuat erlyn kecil *yg fyi, tinggi badannya gak berubah sampai sekarang huhu* ngerasa…”senangnya bisa cari Tuhan apapun kondisi eyn!”
Dan hari ini, lagu ini mengingatkan ku pada teman2 sepelayananku dulu dan juga pada panggilan ku secara pribadi lagi.
Yes I will run the race
‘til I see Your face
Hampir setengah dari usiaku, aku menjalani hidup bersama Dia.. dan aku menyadari, aku masi berada di sebuah pertandingan.
Saat masi di persekutuan dulu, seakan pertandingan tuh lebih jelas jalurnya. Setelah kepengurusan tahun ini selesai, tinggal “digumuli” masi “mau” lanjut gak di kepengurusan tahun depan. Seakan semuanya tersedia bagi kita, tinggal jalani aja. Kita juga punya pembimbing. Jaman SMP-SMA dulu, sepertinya girang banget kalo 1 tahun telah berlalu, dan kita “naek kelas”, pindah ke babak baru, pertandingan baru. Dan enaknya saat itu kita selalu bersama.
Dan tentunya, itu sangat wajar untuk para bayi rohani, kita makan sesuatu yang telah disediakan, kita dibimbing, kita dilayani *walaupun kita juga melayani, namun kita sungguh2 sangat dilayani saat itu*
Saat ini kondisi udah berbeda, hampir semua teman sepelayananku punya dunianya sendiri, melayani di tempat dan bidang masing2. *puji Tuhan!!*
Dan sekarang, yang Tuhan minta juga berbeda, bukan kepengurusan 1 atau 2 tahun *well, mungkin sebagian dari kita masi ada sih*, yang kalau udah kelar bisa mikir2 lagi mau lanjut atau gak, ibaratnya komitmennya bisa temporary. Kali ini semakin bertumbuh dan dewasa di dalam Dia, sungguh jelas, melayani bukan sekedar menjadi bagian dari organisasi. Melayani adalah hidup kita, bagian dari hubungan kita dengan Tuhan. Sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari keseharian kita. Bisa dimanapun, kapanpun, dengan cara apapun.
Dan sampai kapan? 1-2 tahun? Sampai saya bosan? Sampai saya gak punya waktu lagi, karena saya sibuk bekerja? Sampai saya menikah kelak dan waktu saya hanya untuk keluarga?
No!!
Sampai kita bertemu Dia, muka dengan muka!
Teman2, saat ini each of us punya our own race as in bidang pelayanan, bidang kehidupan, tempat dan panggilan. Walaupun sejujurnya aku sangat merindukan kalian *berharap bisa kembali melayani bersama2*, aku percaya Tuhan telah persiapkan kita bersama2 saat itu dan saat ini Dia memanggil kita di tempat kita masing2, mari tetap setia sampai akhir dan saling mendoakan!
Namun, ada 1 race yg selalu kita share bersama yaitu race kehidupan kita bersama dengan Tuhan, hidup yang semakin hari semakin dekat dengan Dia, semakin memancarkan kemuliaan Tuhan, dan yang terus menjadi saksi bagi kerajaanNya dimanapun kita ditempatkan.
Sampai kita bertemu Dia, muka dengan muka!
Inilah doaku, biarlah pada akhirnya, kita semua mampu berkata seperti Rasul Paulus:
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
Thursday, July 22, 2010
Be content!
Be content!
Waktu jamannya dulu masi maen2 MSN messenger, ada 1 teman statusnya adalah – be content!-
Gak terlalu ngerti itu artinya apa dulu, tapi selalu menarik, karena dia adalah salah satu orang yg statusnya gak pernah ganti! I think he was content enough with his status.
Be content!
Salah satu bagian Alkitab yang sangat kusukai adalah *yang aku yakin hampir semua orang hafal ayat ini* I can do all things with God who strengthens me… *kayaknya ini adalah ayat pertama yg aku hafal dalam bahasa Inggris*
Filipi 4:13 Segala perkara dapat kulakukan di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Waktu jaman cuma afal ayat mah, ditelan mentah2 ayat ini, toh ayatnya bagus.. nah pas udah gedean dikit.. jaman mulai baca Alkitab … baru tau alasan Rasul Paulus kenapa bisa berkata sebegitu hebatnya *di ayat sebelumnya* adalah..
Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
Setelah tahu ayat ini, dan actually mengalaminya langsung *Aku pernah mengalami ketika sisa uang di tabungan hanya 100 yen, en gak tau besok mau makan apa… kok yah lewat2 aja hari2ku.. dan malah terlebih lagi.. aku bahkan tetap gemuk aja yaah selama di jepang?* for I have learned to be content whatever the circumstances. , ini jadi ayat "sakti", sumber kekuatanku..aku tidak takut!!
Masa2 di Jepang, adalah sungguh pertama kalinya aku belajar bahwa aku hanya mengandalkan Tuhan saja dalam hidupku.
Orangtuaku? Tidak..aku gak mau mama stress melihat anaknya actually stress dan tidak punya uang.. mama bahkan tidak pernah tau kesusahan ku disana.
Diri sendiri? Haha..boro2 mau mengandalkan diri sendiri, aku hanyalah seorang anak kecil..tidak bisa apa2..yang cuma tau kalo Tuhan dah bukain jalan aku sekolah di Jepang, Tuhan gak mungkin biarin aku berhenti di tengah jalan, Tuhan pasti pimpin sampai aku bisa selesai disana, bagaimana dan apapun caranya…aku Cuma ngikut! Itu! Itu yang mengisi hari2ku.
For I have learned to be content whatever the circumstances.
Pulang ke Indonesia..dengan problema yang baru! Seakan semua masalah “kesusahan” di Jepang, tidak ada artinya, tidak sebanding dengan “kelas” baruku ini. Ujian yang Tuhan perhadapkan denganku, beda2 pula. Seringkali aku merindukan “kelas” lama ku di Jepang, ketika yang perlu kupikirkan hanyalah bagaimana aku makan, bagaimana aku mengumpulkan uang untuk pulang ke Indo ketemu mama!!
Kalau sedang musim2 normal, anggaplah musim semi.. dimana bunga bermekaran..aku bayangkan bunga Sakura dan bunga Matahari bersebelahan..duh cantiknya! *gak mungkin bgt lah, jelas2 musimnya beda!* eniweii… aku nangis itu hanya sebulan sekali! Aku bersyukur akan hal itu, karena itu menunjukan aku masi cewe yg normal and sebulan sekali mataku dibersihkan, literally!
Nah, dalam setahun ada musim kekeringan *dimana air mata kering…nangis gk habis2 berhari2*, atau bisa juga dengan kata lain musim badai, dimana tenaga habis terkuras berusaha bertahan menerpa badai *hehe, salah sendiri! Padahal harusnya saat badai gini yah… tinggal diam aja di pelukan Tuhan, yang jauh lebih besar dari badai itu…enak bisa bobo nyenyak! Tapi kan kadang2 aku suka sok jago tuh..sok yg "Bisa! Bisa! Bisa!" Akirnya kecapean sendiri*
Namun asiknya di setiap badai itu, selalu ada yang Tuhan bisikan, yang awal2nya tidak terlalu kedengeran, karena aku masi bersikukuh dengan sok jago-nya aku..tapi lama2 Tuhan yg super keren ini berteriak sampai akirnya aku sadar!
Kali ini, kembali lagi Dia ajarkan ku to be content!!!
Aku berulang kali ngomong ke Tuhan….”duh Tuhan, eyn gak ngerti kenapa rasa gak enaknya kok belum ilang2 yah? Kenapa yah? Kenapa? Boseen nih!! Mau hidup normal!! Cape mellow2!! Gak asik!”
Dari beberapa renungan yg aku baca beberapa hari ini, berulang-ulang.. be content!
Sermon mgg lalu di gereja juga, be content!
Dan hari ini .. lagi!!! Be content! *sampai akirnya aku senyum sendiri…dan “ooooh gitu yah Tuhan?!”*
....................................................................
(from Crosswalk Women, "A Believer for All Seasons", by Kathi Macias)
Philippians 4:11, which declares, "I have learned in whatever state (condition, circumstance, season) I am, to be content." Easier said than done!! ........
2 Timothy 4:2 instructs us to "Be ready in season and out of season." Each time I read that I realize how often God gives me time to prepare for the situation I'm in—and how often He doesn't. * I wasn’t ready this time huh?! –eyn-*
Obeying God doesn't always mean that I have to walk through fire for Jesus. Most of the time it simply means "renewing my mind" according to Romans 12:2, which explains that our thought processes must be changed to conform to God's Word rather than the prevailing trends and mindsets of the world.
………………….. the renewing of our minds has to go deeper than a simple assent to the fact that those acts (any sins) are wrong. God deals with the heart. His desire is to take our lifelong attitudes and gently but firmly begin to reshape and remold them into a worldview that reflects His values and His righteousness.
In the middle of all that comes an appreciation for the season we're in—be that summer in the desert or winter in Alaska, the early married years with children and bills or the senior years with arthritis and wrinkles. *in my case, oh well masa2 “susah” di jepang, or musim semi ketika gak ada masalah, or masa badai2 saat ini*
To some extent, of course, that proved to be true, and the next season was a bit easier—in some ways. However, I also learned that I was really just trading the difficulties of one season for new ones in the next. And along with leaving those particular difficulties behind, I left some of the joys as well.
True, I have pictures and memories that transport me back to those times, and I smile at the images they bring to mind. But sometimes a tear trickles down my cheek, even as I smile, because I know those very special moments are gone forever, swept away with the passing of time—the changing of seasons. The Spring and Summer of my earthly life are over, and Fall is quickly fading into Winter.
Should I bemoan the loss, giving myself over to living in the past? Many do, particularly if they have no promise of eternity with the Father. But I'm a Christian, a born-again believer whose eternal existence is assured. If my mind has been renewed by the reading and applying of the Scriptures, then there's no place for regret or sorrow as I face the winter of my life.
Each season of our lives, regardless of the "state" or circumstances that accompany it, can be times of rejoicing if we choose to make them so, as the Apostle Paul did. We can choose to be content, whether we have an abundance of this world's riches or scarcely enough to get by. We can choose to be content, whether our health is perfect or less than we'd like it to be. We can choose to be content, whether the world is singing our praises or condemning our every word and action. *i can choose to be content though my heart is aching, di tengah situasi tidak mengenakkan dan melelahkan -eyn-*
The important thing is to remember that Paul said his contentment in every situation was a learned process. When I became a believer I understood that I had to change my way of thinking from that of the world to that of the One who spoke the world into existence, but it didn't happen overnight. It was a learning process—a long one, which will continue until I step from the winter of my temporal life into the eternal season of God's presence.
God intends for Christians to flourish in all seasons, regardless of our situations, and we will only do that as we renew our minds to think as He thinks, to live as He lives, and to love as He loves. We can't do it in our own strength or wisdom, for apart from Him we have none. But the One who is omnipotent and omniscient stands ready to impart His strength and wisdom to us so that we might rejoice in the season we're in today, even as we anticipate the one to come.
………………………………………………………………………………………
My dear Lord…who has been faithful to me through all the seasons in my life… again, kali ini Dia ajarku to be content! I have learned to be content dalam kekuranganku, sehingga saat ini ketika aku menghadapi kekurangan “lagi”, to be honest, I am super content!
Tapi dalam season baru saat ini dalam hidupku, kondisi yg belum pernah kuhadapi sebelumnya… again… God taught me again to be content! or at least, to choose to be content, to enjoy the season! To have faith that season ini akan segera berlalu! To see this season from his point of view! To see this season as a learning process He's making me more beautiful each day! To be a joyful Christian in all seasons! 'tuk belajar seperti Rasul Paulus, supaya aku juga bisa berkata....
"Our hearts ache, but we always have joy............ We own nothing, and yet we have everything." 2 Cor 6:10
Be content!
Waktu jamannya dulu masi maen2 MSN messenger, ada 1 teman statusnya adalah – be content!-
Gak terlalu ngerti itu artinya apa dulu, tapi selalu menarik, karena dia adalah salah satu orang yg statusnya gak pernah ganti! I think he was content enough with his status.
Be content!
Salah satu bagian Alkitab yang sangat kusukai adalah *yang aku yakin hampir semua orang hafal ayat ini* I can do all things with God who strengthens me… *kayaknya ini adalah ayat pertama yg aku hafal dalam bahasa Inggris*
Filipi 4:13 Segala perkara dapat kulakukan di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Waktu jaman cuma afal ayat mah, ditelan mentah2 ayat ini, toh ayatnya bagus.. nah pas udah gedean dikit.. jaman mulai baca Alkitab … baru tau alasan Rasul Paulus kenapa bisa berkata sebegitu hebatnya *di ayat sebelumnya* adalah..
Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
Setelah tahu ayat ini, dan actually mengalaminya langsung *Aku pernah mengalami ketika sisa uang di tabungan hanya 100 yen, en gak tau besok mau makan apa… kok yah lewat2 aja hari2ku.. dan malah terlebih lagi.. aku bahkan tetap gemuk aja yaah selama di jepang?* for I have learned to be content whatever the circumstances. , ini jadi ayat "sakti", sumber kekuatanku..aku tidak takut!!
Masa2 di Jepang, adalah sungguh pertama kalinya aku belajar bahwa aku hanya mengandalkan Tuhan saja dalam hidupku.
Orangtuaku? Tidak..aku gak mau mama stress melihat anaknya actually stress dan tidak punya uang.. mama bahkan tidak pernah tau kesusahan ku disana.
Diri sendiri? Haha..boro2 mau mengandalkan diri sendiri, aku hanyalah seorang anak kecil..tidak bisa apa2..yang cuma tau kalo Tuhan dah bukain jalan aku sekolah di Jepang, Tuhan gak mungkin biarin aku berhenti di tengah jalan, Tuhan pasti pimpin sampai aku bisa selesai disana, bagaimana dan apapun caranya…aku Cuma ngikut! Itu! Itu yang mengisi hari2ku.
For I have learned to be content whatever the circumstances.
Pulang ke Indonesia..dengan problema yang baru! Seakan semua masalah “kesusahan” di Jepang, tidak ada artinya, tidak sebanding dengan “kelas” baruku ini. Ujian yang Tuhan perhadapkan denganku, beda2 pula. Seringkali aku merindukan “kelas” lama ku di Jepang, ketika yang perlu kupikirkan hanyalah bagaimana aku makan, bagaimana aku mengumpulkan uang untuk pulang ke Indo ketemu mama!!
Kalau sedang musim2 normal, anggaplah musim semi.. dimana bunga bermekaran..aku bayangkan bunga Sakura dan bunga Matahari bersebelahan..duh cantiknya! *gak mungkin bgt lah, jelas2 musimnya beda!* eniweii… aku nangis itu hanya sebulan sekali! Aku bersyukur akan hal itu, karena itu menunjukan aku masi cewe yg normal and sebulan sekali mataku dibersihkan, literally!
Nah, dalam setahun ada musim kekeringan *dimana air mata kering…nangis gk habis2 berhari2*, atau bisa juga dengan kata lain musim badai, dimana tenaga habis terkuras berusaha bertahan menerpa badai *hehe, salah sendiri! Padahal harusnya saat badai gini yah… tinggal diam aja di pelukan Tuhan, yang jauh lebih besar dari badai itu…enak bisa bobo nyenyak! Tapi kan kadang2 aku suka sok jago tuh..sok yg "Bisa! Bisa! Bisa!" Akirnya kecapean sendiri*
Namun asiknya di setiap badai itu, selalu ada yang Tuhan bisikan, yang awal2nya tidak terlalu kedengeran, karena aku masi bersikukuh dengan sok jago-nya aku..tapi lama2 Tuhan yg super keren ini berteriak sampai akirnya aku sadar!
Kali ini, kembali lagi Dia ajarkan ku to be content!!!
Aku berulang kali ngomong ke Tuhan….”duh Tuhan, eyn gak ngerti kenapa rasa gak enaknya kok belum ilang2 yah? Kenapa yah? Kenapa? Boseen nih!! Mau hidup normal!! Cape mellow2!! Gak asik!”
Dari beberapa renungan yg aku baca beberapa hari ini, berulang-ulang.. be content!
Sermon mgg lalu di gereja juga, be content!
Dan hari ini .. lagi!!! Be content! *sampai akirnya aku senyum sendiri…dan “ooooh gitu yah Tuhan?!”*
....................................................................
(from Crosswalk Women, "A Believer for All Seasons", by Kathi Macias)
Philippians 4:11, which declares, "I have learned in whatever state (condition, circumstance, season) I am, to be content." Easier said than done!! ........
2 Timothy 4:2 instructs us to "Be ready in season and out of season." Each time I read that I realize how often God gives me time to prepare for the situation I'm in—and how often He doesn't. * I wasn’t ready this time huh?! –eyn-*
Obeying God doesn't always mean that I have to walk through fire for Jesus. Most of the time it simply means "renewing my mind" according to Romans 12:2, which explains that our thought processes must be changed to conform to God's Word rather than the prevailing trends and mindsets of the world.
………………….. the renewing of our minds has to go deeper than a simple assent to the fact that those acts (any sins) are wrong. God deals with the heart. His desire is to take our lifelong attitudes and gently but firmly begin to reshape and remold them into a worldview that reflects His values and His righteousness.
In the middle of all that comes an appreciation for the season we're in—be that summer in the desert or winter in Alaska, the early married years with children and bills or the senior years with arthritis and wrinkles. *in my case, oh well masa2 “susah” di jepang, or musim semi ketika gak ada masalah, or masa badai2 saat ini*
To some extent, of course, that proved to be true, and the next season was a bit easier—in some ways. However, I also learned that I was really just trading the difficulties of one season for new ones in the next. And along with leaving those particular difficulties behind, I left some of the joys as well.
True, I have pictures and memories that transport me back to those times, and I smile at the images they bring to mind. But sometimes a tear trickles down my cheek, even as I smile, because I know those very special moments are gone forever, swept away with the passing of time—the changing of seasons. The Spring and Summer of my earthly life are over, and Fall is quickly fading into Winter.
Should I bemoan the loss, giving myself over to living in the past? Many do, particularly if they have no promise of eternity with the Father. But I'm a Christian, a born-again believer whose eternal existence is assured. If my mind has been renewed by the reading and applying of the Scriptures, then there's no place for regret or sorrow as I face the winter of my life.
Each season of our lives, regardless of the "state" or circumstances that accompany it, can be times of rejoicing if we choose to make them so, as the Apostle Paul did. We can choose to be content, whether we have an abundance of this world's riches or scarcely enough to get by. We can choose to be content, whether our health is perfect or less than we'd like it to be. We can choose to be content, whether the world is singing our praises or condemning our every word and action. *i can choose to be content though my heart is aching, di tengah situasi tidak mengenakkan dan melelahkan -eyn-*
The important thing is to remember that Paul said his contentment in every situation was a learned process. When I became a believer I understood that I had to change my way of thinking from that of the world to that of the One who spoke the world into existence, but it didn't happen overnight. It was a learning process—a long one, which will continue until I step from the winter of my temporal life into the eternal season of God's presence.
God intends for Christians to flourish in all seasons, regardless of our situations, and we will only do that as we renew our minds to think as He thinks, to live as He lives, and to love as He loves. We can't do it in our own strength or wisdom, for apart from Him we have none. But the One who is omnipotent and omniscient stands ready to impart His strength and wisdom to us so that we might rejoice in the season we're in today, even as we anticipate the one to come.
………………………………………………………………………………………
My dear Lord…who has been faithful to me through all the seasons in my life… again, kali ini Dia ajarku to be content! I have learned to be content dalam kekuranganku, sehingga saat ini ketika aku menghadapi kekurangan “lagi”, to be honest, I am super content!
Tapi dalam season baru saat ini dalam hidupku, kondisi yg belum pernah kuhadapi sebelumnya… again… God taught me again to be content! or at least, to choose to be content, to enjoy the season! To have faith that season ini akan segera berlalu! To see this season from his point of view! To see this season as a learning process He's making me more beautiful each day! To be a joyful Christian in all seasons! 'tuk belajar seperti Rasul Paulus, supaya aku juga bisa berkata....
"Our hearts ache, but we always have joy............ We own nothing, and yet we have everything." 2 Cor 6:10
Be content!
bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu!
July 20th 2010
Mungkin ranjangku menertawaiku kemarin, cepat sekali aku tidur, jam 9 malam! *bravo*
Kemarin, sekujur tubuh terasa lemas…dan aku memutuskan untuk melakukan hal terbaik untuknya, yaitu : tidur lebih awal. Aku sangat yakin bahwa tidur jauh lebih baik daripada menservice lidahku dengan eskrim vanilla yg memanggilku terus di kulkas, ataupun menonton film apapun untuk mendistract pikiranku.
Pagi ini, bangun dengan rasa syukur, “Yes, makasi Tuhan buat tidur super nyenyak’ku kemarin malam~~~!!”
Janjian dengan bos’ku jam 10 pagi … namun sebagai bos tentunya, beliau bebas datang jam berapapun. Sebagai “karyawan yang baik”, kuputuskan untuk bekerja APAPUN sembari menunggu, sampai aku tak tau lagi harus mengerjakan apa, 1 jam berlalu bos’ku tak kunjung tiba.
Jadi sedikit menyesal karena aku tidak membawa buku apapun untuk dibaca, padahal baru aja tadi pagi dapat tulisan blog yg dikirimkan temanku “10 rahasia sukses orang jepang”.. aku jadi cukup bernostalgia kisah2 indah kuliahku di negeri penjajah itu.. *oops!* dan salah satunya adalah.. orang jepang kemanapun membaca buku, ketika menunggu, maupun di dalam kereta, berdiri maupun duduk! Oh yeah…aku ingat ketika aku masi di jepang, betul! Banyak sekali pembaca buku, tetapi juga banyak anak2 sekolahan yg sibuk dandan di kereta.. dan keduanya sama = acuh tak acuh, terbenam dalam dunianya sendiri.
Eniwei.. kembali ke “yaaaah!!!! Coba aja aku bawa buku!!!”
Masi bosan dan teramat bosan, aku menyapa teman kerjaku .. dan ternyata… dia bawa buku!!!!
“Erlyn ikutin laskar pelangi gak???”
“wah Cuma ntn laskar pelangi sih, belum nonton Sang Pemimpi….”
“Nih aku ada Edensor, novel ke-3nya!!! Walau belum baca 1 dan 2..nyambung kok!!”
“ok deh, aku pinjem yah.. sampai nanti bos dateng aku balikin…”
………lembar demi lembar berlalu …. dan akirnya kubawa Edensor kemanapun kupergi hari ini.. dan kuselesaikan pula novel ke 3-nya Andrea Hirata, sang pemuda Belitong!!!!
Sebenernya, awal aku nonton Laskar Pelangi, karena menemani 2 sepupu kecilku … dan aku tidak pernah menyesalinya sampai sekarang, sungguh mengharukan bagaimana para anak2 berjuang demi bersekolah, menempuh jarak berjam2 demi tiba ke sekolah *well, mgkn buat kita yg di Jakarta, juga berjam2 sampai ke sekolah, tapi karena macet di kendaraan*. Sejak nonton Laskar Pelangi, aku selalu ingetin dede2ku!!! Ingat!!!! Orang bersusah2 mau sekolah, kalian begitu mudahnya sekolah, harus belajar yang rajin!!!!!!!
Nah … di Edensor ini, si Ikal …. menceritakan kisahnya selulus SMA, sampai dia menerima beasiswa ke Perancis dan ber-backpacking keliling Eropa. Itu adalah salah satunya mimpinya yang menjadi kenyataan yaitu : bersekolah di Sorbonne dan menginjakkan kaki di Afrika. Bahkan mimpi-nya yg selama ini tidak pernah terlintas, pun menjadi kenyataan. Dia bertemu dengan Andrea Galliano di Milan. *Ikal mengganti namanya menjadi Andrea karena membaca majalah dengan berita Andrea Galliano di dalamnya. Bayangkan seorang anak kecil di Belitong, membaca kisah jauh di Italy, dan akirnya bertemu dengannya*
Walaupun di novel ini juga ada kenyataan pahit, ia tidak pernah berjumpa dengan ALing, cinta pertamanya. Dan juga beberapa pengalaman tidak mengenakkan..hari pertama di Eropa, dia harus kedinginan karena gak punya tempat tinggal *kombinasi antara administrasi yg tidak baik dari Indonesia, dan kejamnya orang Belanda disana yg tidak berbelas kasihan… * belum lagi pengalaman bertemu perampok!
Sebuah kisah inspriratif ‘tuk dibaca, dan menjadi begitu mengharukan karena ini adalah kisah seorang anak Indonesia yang berjuang meraih mimpinya! Beberapa tulisannya yang mau aku bagikan (sisanya boleh dibaca sendiri..hehe)…..
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain. Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup.
Tabiat orang tak berhubungan dengan gelar yg disematkan kepadanya, bukan pula bagaimana ia menginginkan orang hormat kepadanya, tapi lebih pada berapa besar ia menaruh hormat kepada dirinya sendiri.
Rupanya, tak ada yang lebih aneh selain orang dimabuk cinta. Segalanya tiba-tiba berubah menjadi serbabaik. Kini, dalam penglihatanku, setiap benda menjadi indah....
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu..
Sejak kecil aku harus bekerja keras demi pendidikan, mengorbankan segalanya. Harapan yang diembuskan beasiswa itu membuatku terpukau. Aku sadar bahwa apa yang kualami selama ini bukanlah aku sebagai diriku. Beasiswa itu menawarkan semacam turning point : titik belok bagi hidupku, sebuah kesempatan yang mungkin didapat orang yang selalu mencari dirinya sendiri. Aku telah tertempa untuk mengejar pendidikan, apapun taruhannya.
Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup rupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangkam aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-dua, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, teurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat- tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!
Sering aku merasa heran. Kawan-kawanku The Brits, Yankee, kelompok Jerman, dan Belanda adalah para pub crawler kawakan. Mereka senang bermabuk-mabukan. Tak jarang mereka mabuk mulai Jumat sore dan bsaru sadar Senin pagi. Sebagian hidup seperti bohemian, mengaitkan anting di hidung, mencandu drugs, musik trash metal, berorientasi seks gajil, dan tak pernah terllihat tekun belajar, namun mereka sangat unggul di kelas. Aku yang hidup sesuai dengan tuntunan Dasa Dharma Pramuka, taat perintah pada orang tua, selalu belajar dengan giat dan tak lupa minum susu, *aku MENCINTAI susu – eyn-* jarang dapet melebihi nilai mereka. Dengan ini, kutemukan paradoks kedua, dalam diriku sendiri.
Tertawalah, seisi dunia akan tertawa bersamamu; jangan bersedih karena kau hanya akan bersedih sendirian.
Peristiwa dengan Andrea Galliano membuatku seperti melihat cahaya yang meyakinkanku bahwa sekecil apapun hal terjadi memang karena suatu alasan. …. Aku tahu, hal yang menakjubkan bisa saja terjadi lagi padaku di sana, tanpa pernah kuduga dari mana arah datangnya.
Karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apapun keadaannya. *huhuhu…kita harus tahu kapan harus stop yah sepertinya?! – eyn - *
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di tengah2 membaca ini, aku berulang kali ngomong ke Mama… “Ma, aku jadi pengen ini pengen itu pengen mengejar mimpi .. pengen kesini …….. “
Mama ketawa dan bilang, “duh, ini anak kenapa sih? Udah stop deh tuh baca bukunya.. jangan mikir yg aneh2!!!”
Sembari bacapun, aku sembari berkomunikasi dengan Tuhan… “Tuhan, kayaknya adil-adil aja deh kalo eyn mau ini itu kesana kemari deh Tuhan… toh selama ini eyn kan gak mikirin maunya eyn Tuhan!?? eyn kan masi muda Tuhan?! bole lah yah.. yah yah yah???”
Aku merasakan Dia tersenyum…
Jam 8 malam….my daily devotional dari Proverbs 31 ministries visited my inbox *hanya sisa beberapa halaman sebelum Edensor habis, tetapi aku putuskan untuk baca dulu renungan itu*, title-nya “it’s not about you” … udah ada firasat buruk…”duuuh… gk enak nih kayaknya!!!!”
Sebenarnya inti dari renungan itu adalah bagaimana we have to be content in any circumstances.. kenapa?! For when I am weak, then I am strong. Jadi ketika kita harus berhadapan dengan trials and tribulations, belajar dari Rasul Paulus to be content. The first step to learning contentment adalah to empty ourselves and allow unselfish humility to drive our attitude and our actions. No grumbling! No complaining!
Namun renungan hari ini berbicara lain padaku.. tepatnya di bagian awalnya, dibilang gini :
In his popular book The Purpose Driven Life, author and pastor Rick Warren makes one point very clear, “It’s not about you.” In a world where pursuing personal comfort and happiness is an obsession, many of us chafe and choke at the thought of any struggle or pain invading our lives. The thought that the world wasn’t created just to keep us happy and comfortable seems counter intuitive to today’s thinking. It can be difficult to swallow the fact that God is not most interested in our comfort, but more interested in our character.
Then, I realized … tentu tidak pernah salah untuk bermimpi….toh dari kecil kita diajarkan untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang di langit, jadi seandainya tidak sampai langit pun setidaknya sampai ke awan kan…? Bermimpi untuk sukses!! Untuk hidup lebih enak! Dst.. namun, Tuhan mengingatkan, sebagai anakNya…ada mimpi yang lebih mulia yang perlu dicapai dan seharusnya dimimpikan olehku, yaitu karakter yang semakin serupa dengan Kristus.. seringkali ketika keadaan tidak menguntungkan, bikin kita susah…itulah saat dimana karakter kita semakin diasah..dalam rangka penggapaian mimpi yang lebih sempurna.
Tentu..setelah selesai membaca Edensor ini..aku menuliskan beberapa list mimpiku..dan sangat rindu untuk mendoakannya tiap hari..namun, aku diingatkan..bahwa hidupku, it’s not about me! it’s not about my comfort! Tetapi lebih … it’s about Him be glorified in my life!
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu….! Ya, aku akan terus bermimpi di dalam Dia.. ! ketika mimpiku menjadi kenyataan, aku tau itu adalah anugrahNya, ketika kenyataan tidak sesuai dengan mimpiku, aku tau itu adalah proses Tuhan menyempurnakan mimpiNya dalam hidupku.
Mungkin ranjangku menertawaiku kemarin, cepat sekali aku tidur, jam 9 malam! *bravo*
Kemarin, sekujur tubuh terasa lemas…dan aku memutuskan untuk melakukan hal terbaik untuknya, yaitu : tidur lebih awal. Aku sangat yakin bahwa tidur jauh lebih baik daripada menservice lidahku dengan eskrim vanilla yg memanggilku terus di kulkas, ataupun menonton film apapun untuk mendistract pikiranku.
Pagi ini, bangun dengan rasa syukur, “Yes, makasi Tuhan buat tidur super nyenyak’ku kemarin malam~~~!!”
Janjian dengan bos’ku jam 10 pagi … namun sebagai bos tentunya, beliau bebas datang jam berapapun. Sebagai “karyawan yang baik”, kuputuskan untuk bekerja APAPUN sembari menunggu, sampai aku tak tau lagi harus mengerjakan apa, 1 jam berlalu bos’ku tak kunjung tiba.
Jadi sedikit menyesal karena aku tidak membawa buku apapun untuk dibaca, padahal baru aja tadi pagi dapat tulisan blog yg dikirimkan temanku “10 rahasia sukses orang jepang”.. aku jadi cukup bernostalgia kisah2 indah kuliahku di negeri penjajah itu.. *oops!* dan salah satunya adalah.. orang jepang kemanapun membaca buku, ketika menunggu, maupun di dalam kereta, berdiri maupun duduk! Oh yeah…aku ingat ketika aku masi di jepang, betul! Banyak sekali pembaca buku, tetapi juga banyak anak2 sekolahan yg sibuk dandan di kereta.. dan keduanya sama = acuh tak acuh, terbenam dalam dunianya sendiri.
Eniwei.. kembali ke “yaaaah!!!! Coba aja aku bawa buku!!!”
Masi bosan dan teramat bosan, aku menyapa teman kerjaku .. dan ternyata… dia bawa buku!!!!
“Erlyn ikutin laskar pelangi gak???”
“wah Cuma ntn laskar pelangi sih, belum nonton Sang Pemimpi….”
“Nih aku ada Edensor, novel ke-3nya!!! Walau belum baca 1 dan 2..nyambung kok!!”
“ok deh, aku pinjem yah.. sampai nanti bos dateng aku balikin…”
………lembar demi lembar berlalu …. dan akirnya kubawa Edensor kemanapun kupergi hari ini.. dan kuselesaikan pula novel ke 3-nya Andrea Hirata, sang pemuda Belitong!!!!
Sebenernya, awal aku nonton Laskar Pelangi, karena menemani 2 sepupu kecilku … dan aku tidak pernah menyesalinya sampai sekarang, sungguh mengharukan bagaimana para anak2 berjuang demi bersekolah, menempuh jarak berjam2 demi tiba ke sekolah *well, mgkn buat kita yg di Jakarta, juga berjam2 sampai ke sekolah, tapi karena macet di kendaraan*. Sejak nonton Laskar Pelangi, aku selalu ingetin dede2ku!!! Ingat!!!! Orang bersusah2 mau sekolah, kalian begitu mudahnya sekolah, harus belajar yang rajin!!!!!!!
Nah … di Edensor ini, si Ikal …. menceritakan kisahnya selulus SMA, sampai dia menerima beasiswa ke Perancis dan ber-backpacking keliling Eropa. Itu adalah salah satunya mimpinya yang menjadi kenyataan yaitu : bersekolah di Sorbonne dan menginjakkan kaki di Afrika. Bahkan mimpi-nya yg selama ini tidak pernah terlintas, pun menjadi kenyataan. Dia bertemu dengan Andrea Galliano di Milan. *Ikal mengganti namanya menjadi Andrea karena membaca majalah dengan berita Andrea Galliano di dalamnya. Bayangkan seorang anak kecil di Belitong, membaca kisah jauh di Italy, dan akirnya bertemu dengannya*
Walaupun di novel ini juga ada kenyataan pahit, ia tidak pernah berjumpa dengan ALing, cinta pertamanya. Dan juga beberapa pengalaman tidak mengenakkan..hari pertama di Eropa, dia harus kedinginan karena gak punya tempat tinggal *kombinasi antara administrasi yg tidak baik dari Indonesia, dan kejamnya orang Belanda disana yg tidak berbelas kasihan… * belum lagi pengalaman bertemu perampok!
Sebuah kisah inspriratif ‘tuk dibaca, dan menjadi begitu mengharukan karena ini adalah kisah seorang anak Indonesia yang berjuang meraih mimpinya! Beberapa tulisannya yang mau aku bagikan (sisanya boleh dibaca sendiri..hehe)…..
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain. Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup.
Tabiat orang tak berhubungan dengan gelar yg disematkan kepadanya, bukan pula bagaimana ia menginginkan orang hormat kepadanya, tapi lebih pada berapa besar ia menaruh hormat kepada dirinya sendiri.
Rupanya, tak ada yang lebih aneh selain orang dimabuk cinta. Segalanya tiba-tiba berubah menjadi serbabaik. Kini, dalam penglihatanku, setiap benda menjadi indah....
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu..
Sejak kecil aku harus bekerja keras demi pendidikan, mengorbankan segalanya. Harapan yang diembuskan beasiswa itu membuatku terpukau. Aku sadar bahwa apa yang kualami selama ini bukanlah aku sebagai diriku. Beasiswa itu menawarkan semacam turning point : titik belok bagi hidupku, sebuah kesempatan yang mungkin didapat orang yang selalu mencari dirinya sendiri. Aku telah tertempa untuk mengejar pendidikan, apapun taruhannya.
Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup rupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangkam aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-dua, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, teurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat- tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!
Sering aku merasa heran. Kawan-kawanku The Brits, Yankee, kelompok Jerman, dan Belanda adalah para pub crawler kawakan. Mereka senang bermabuk-mabukan. Tak jarang mereka mabuk mulai Jumat sore dan bsaru sadar Senin pagi. Sebagian hidup seperti bohemian, mengaitkan anting di hidung, mencandu drugs, musik trash metal, berorientasi seks gajil, dan tak pernah terllihat tekun belajar, namun mereka sangat unggul di kelas. Aku yang hidup sesuai dengan tuntunan Dasa Dharma Pramuka, taat perintah pada orang tua, selalu belajar dengan giat dan tak lupa minum susu, *aku MENCINTAI susu – eyn-* jarang dapet melebihi nilai mereka. Dengan ini, kutemukan paradoks kedua, dalam diriku sendiri.
Tertawalah, seisi dunia akan tertawa bersamamu; jangan bersedih karena kau hanya akan bersedih sendirian.
Peristiwa dengan Andrea Galliano membuatku seperti melihat cahaya yang meyakinkanku bahwa sekecil apapun hal terjadi memang karena suatu alasan. …. Aku tahu, hal yang menakjubkan bisa saja terjadi lagi padaku di sana, tanpa pernah kuduga dari mana arah datangnya.
Karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apapun keadaannya. *huhuhu…kita harus tahu kapan harus stop yah sepertinya?! – eyn - *
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di tengah2 membaca ini, aku berulang kali ngomong ke Mama… “Ma, aku jadi pengen ini pengen itu pengen mengejar mimpi .. pengen kesini …….. “
Mama ketawa dan bilang, “duh, ini anak kenapa sih? Udah stop deh tuh baca bukunya.. jangan mikir yg aneh2!!!”
Sembari bacapun, aku sembari berkomunikasi dengan Tuhan… “Tuhan, kayaknya adil-adil aja deh kalo eyn mau ini itu kesana kemari deh Tuhan… toh selama ini eyn kan gak mikirin maunya eyn Tuhan!?? eyn kan masi muda Tuhan?! bole lah yah.. yah yah yah???”
Aku merasakan Dia tersenyum…
Jam 8 malam….my daily devotional dari Proverbs 31 ministries visited my inbox *hanya sisa beberapa halaman sebelum Edensor habis, tetapi aku putuskan untuk baca dulu renungan itu*, title-nya “it’s not about you” … udah ada firasat buruk…”duuuh… gk enak nih kayaknya!!!!”
Sebenarnya inti dari renungan itu adalah bagaimana we have to be content in any circumstances.. kenapa?! For when I am weak, then I am strong. Jadi ketika kita harus berhadapan dengan trials and tribulations, belajar dari Rasul Paulus to be content. The first step to learning contentment adalah to empty ourselves and allow unselfish humility to drive our attitude and our actions. No grumbling! No complaining!
Namun renungan hari ini berbicara lain padaku.. tepatnya di bagian awalnya, dibilang gini :
In his popular book The Purpose Driven Life, author and pastor Rick Warren makes one point very clear, “It’s not about you.” In a world where pursuing personal comfort and happiness is an obsession, many of us chafe and choke at the thought of any struggle or pain invading our lives. The thought that the world wasn’t created just to keep us happy and comfortable seems counter intuitive to today’s thinking. It can be difficult to swallow the fact that God is not most interested in our comfort, but more interested in our character.
Then, I realized … tentu tidak pernah salah untuk bermimpi….toh dari kecil kita diajarkan untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang di langit, jadi seandainya tidak sampai langit pun setidaknya sampai ke awan kan…? Bermimpi untuk sukses!! Untuk hidup lebih enak! Dst.. namun, Tuhan mengingatkan, sebagai anakNya…ada mimpi yang lebih mulia yang perlu dicapai dan seharusnya dimimpikan olehku, yaitu karakter yang semakin serupa dengan Kristus.. seringkali ketika keadaan tidak menguntungkan, bikin kita susah…itulah saat dimana karakter kita semakin diasah..dalam rangka penggapaian mimpi yang lebih sempurna.
Tentu..setelah selesai membaca Edensor ini..aku menuliskan beberapa list mimpiku..dan sangat rindu untuk mendoakannya tiap hari..namun, aku diingatkan..bahwa hidupku, it’s not about me! it’s not about my comfort! Tetapi lebih … it’s about Him be glorified in my life!
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu….! Ya, aku akan terus bermimpi di dalam Dia.. ! ketika mimpiku menjadi kenyataan, aku tau itu adalah anugrahNya, ketika kenyataan tidak sesuai dengan mimpiku, aku tau itu adalah proses Tuhan menyempurnakan mimpiNya dalam hidupku.
in everything give thanks!
Thanks to God for my Redeemer,
Thanks for all Thou dost provide!
Thanks for times now but a mem’ry,
Thanks for Jesus by my side!
Thanks for pleasant, balmy springtime,
Thanks for dark and stormy fall!
Thanks for tears by now forgotten,
Thanks for peace within my soul!
Thanks for prayers that Thou hast answered,
Thanks for what Thou dost deny!
Thanks for storms that I have weathered,
Thanks for all Thou dost supply!
Thanks for pain, and thanks for pleasure,
Thanks for comfort in despair!
Thanks for grace that none can measure,
Thanks for love beyond compare!
Thanks for roses by the wayside,
Thanks for thorns their stems contain!
Thanks for home and thanks for fireside,
Thanks for hope, that sweet refrain!
Thanks for joy and thanks for sorrow,
Thanks for heav’nly peace with Thee!
Thanks for hope in the tomorrow,
Thanks through all eternity!
- Thanks to God for my Redeemer. Words by August L. Storm -
Thanks for all Thou dost provide!
Thanks for times now but a mem’ry,
Thanks for Jesus by my side!
Thanks for pleasant, balmy springtime,
Thanks for dark and stormy fall!
Thanks for tears by now forgotten,
Thanks for peace within my soul!
Thanks for prayers that Thou hast answered,
Thanks for what Thou dost deny!
Thanks for storms that I have weathered,
Thanks for all Thou dost supply!
Thanks for pain, and thanks for pleasure,
Thanks for comfort in despair!
Thanks for grace that none can measure,
Thanks for love beyond compare!
Thanks for roses by the wayside,
Thanks for thorns their stems contain!
Thanks for home and thanks for fireside,
Thanks for hope, that sweet refrain!
Thanks for joy and thanks for sorrow,
Thanks for heav’nly peace with Thee!
Thanks for hope in the tomorrow,
Thanks through all eternity!
- Thanks to God for my Redeemer. Words by August L. Storm -
Subscribe to:
Posts (Atom)